RESENSI RAFASHA KHARINDRA SAMAD
RESENSI NOVEL
SOEHARTO (SETELAH SANG JENDERAL BESAR PERGI)
IDENTITAS BUKU :
Judul : SOEHARTO (SETELAH SANG JENDERAL BESAR PERGI)
Penulis : Redaksi Tempo
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun terbit/Edisi : Cetakan Kedua,6 Agustus 2018
Kota terbit : Jakarta
Tebal buku : 270 Halaman
Jenis buku : Novel NonFiksi
Memimpin sebuah negara selama 32 tahun bukanlah perjalanan yang singkat untuk seorang Jenderal berbintang 5 Pada masanya. Soeharto, yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden Kedua Republik Indonesia kurang lebih TIGA DEKADE, yakni sejak 1966 hingga 1998. Kepemimpinan Soeharto diwarnai subjektivitas diri yang begitu kuat. Dia mewujudkan indonesia yang makmur, sentralistis, serta disegani tanpa peduli demokrasi dan hak asasi manusia.
Ada nostalgia yang selalu membuat orang rindu akan stabilitas yang dibangunnya dahulu, manakala demokrasi menimbulkan riak-riak ketidakpastiaan: munculnya raja-raja kecil di daerah, dan para oportunis mendominasi panggung- panggung kekuasaan. Tiga puluh dua tahun berkuasa, Soerharto tentu saja mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat baik ataupun sebaliknya. Namun, ada proses yang seakan terus-menerus berlangsung di masa pemerintahan yang panjangnya hanya bisa dikalahkan oleh pemimpin Kuba Fidel Castro, yaitu sentralisasi, bahkan kemudian personalisasi, dengan sosok Soeharto sebagai nukleus sentral seluruh negeri. Proses sentralisasi mungkin bisa tercium sejak dini. Tepatnya tatkala dia menyederhanakan partai-partai yang jumlahnya ratusan menjadi hanya sepuluh partai. Segenap aturan pemilu pun digiring ke satu tujuan: kemenangan Golkar.
Soeharto adalah tipe manusia yang mendasarkan diri pada an act of faith dan bukan an act of reason. Karena itu. Banyak ucapan dan tindakan yang mengejutkan, dia tidak pernah ragu dalam memutuskan sesuatu. Dia tidak perlu pertimbangan rasional ketika membubarkan PKI, tetapi karena keyakinannya sendiri, dengan keyakinannya itu sama pulalah untuk melancarkan operasi “petrus” alias penembakan misterius untuk membasmi preman. Dia menyatakan, penembakan misterius itu sengaja dilakukan sebagai terapi kejut untuk meredam kejahatan. Namun, cara mengatasi kejahatan dengan petrius ini menuai banyak ancaman, yang bertentangan dengan prinsip hukum dan keadilan. Penembakan petrus dinilai sebagai pembunuhan berencana
Awal dan akhir ditandai dengan dua hal: kecemasan dan darah. Demonstrasi besar-besaran, penembakan mahasiswa, dan aksi massa yang memakan korban terjadi sesaat sebelum Soeharto mengambil alih kekuasaan dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno, pada 1966. Diujung kekuasaan Soeharto, keadaan ekonomi negara juga hancur, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terjerembab sangat cepat.
KELEMAHAN :
Sebagai karya tulis yang mengedukasi sebagian remaja, alangkah baik hati dan nuraninya Bapak Soeharto pada masa kepemimpinannya, tak luput juga dengan kejahatan yang dibuat beliau, seakan-akan silih berganti antara baik dan jahat yang tidak dibahas lebih dalam. Namun apa daya, buku ini dimulai dengan kematian Bapak Soeharto, yang memantik simpati bahwa beliau juga manusia. Banyak orang yang menilai Soeharto dengan kleptocrat, pencuri terbesar dunia yang tidak diadili hanya karena “mikul dhuwur, mendhem njero”.
KELEBIHAN :
Buku ini mengupas banyak hal atas sosok “The smilling General’, yang kontroversi sekaligus disayangi oleh khalayak ramai. Mulai dari membahas politik, keluarga, gurita bisnis, dan tentu kontroversi yang menyertai. Kekerasan HAM dalam buku ini diseret begitu panjang didalamnya, dan juga soal kedekatann Bapak Soeharto dengan klenik Jawa dan Kejawen. Digambarkan Soeharto kerap meminta dawuh kepada rama-rama yang menjadi penasihat sprtualnya.
KESIMPULAN :
Segala amal dan dosa Bapak Soeharto akan dikenang bangsa ini. Baik dan buruk, negeri ini belajar dari kepemimpinan beliau. Lewat buku ini, keadipo ditegakkan. Keadilan untuk menilai razim tirani, simpati, dan anipati berbaur. Tempo berhasil membuat buku ini menjadi sebuah pelajaran bagi bangsa ini dan mengulk kebenaran dari zaman Orba hingga mengalirkannya di era reformasi
.jpg)
Comments
Post a Comment