XI.3 - VIDEO LITERASI - AZKIYAH FARCHATY
RESENSI BUKU MILEA: SUARA DARI DILAN
IDENTITAS BUKU
1. Judul Buku: Milea suara dari dilan
2. Pengarang: Pidi Baiq
3. Penerbit: Pastelbook
4. Tahun Terbit: 2020
5. Kota Terbit: Bandung
6. Jumlah Halaman: 357
7. ISBN: 978-602-0851-56-3
PENDAHULUAN
"Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu." Kutipan yang emosional ini membuka kisah di novel "Milea: Suara dari Dilan" karya Pidi Baiq. Setelah sukses dengan dua novel sebelumnya yang diceritakan dari sudut pandang Milea, kehadiran buku ketiga ini sangat dinanti nanti oleh pembaca. Novel ini istimewa karena menyajikan klarifikasi dan sudut pandang Dilan tentang kisah cintanya dengan Milea di Bandung tahun 1990-1991, termasuk alasan di balik perpisahan mereka. Memilih novel ini untuk diresensi penting karena ia menjawab rasa penasaran pembaca dan melengkapi narasi yang belum tuntas, membuat kita melihat sisi emosional Dilan yang selama ini tersembunyi.
ISI RESENSI
Ringkasan Isi Buku
Novel "Milea: Suara dari Dilan" kembali membawa pembaca ke era 90-an di Bandung, tetapi kali ini, seluruh cerita dinarasikan langsung oleh Dilan. Dilan menceritakan masa kecilnya, perkenalannya yang unik dengan Milea, momen-momen romantis mereka, hingga konflik yang menyebabkan hubungan mereka kandas. Cerita utama berfokus pada dinamika hubungan Dilan yang merupakan anggota geng motor dan Milea yang khawatir akan keselamatannya. Puncaknya, Milea memberikan
ultimatum untuk berpisah agar Dilan menjauhi dunia motor. Perpisahan yang semula hanya gertakan berubah menjadi nyata dan berlangsung lama, hingga keduanya beranjak dewasa dan bertemu kembali di acara reuni SMA, di mana mereka masih menyimpan perasaan namun telah memiliki pasangan masing-masing.
Analisis dan Ulasan
Kelebihan utama novel ini adalah penggunaannya sudut pandang Dilan yang jujur dan apa adanya, yang berhasil mengobati rasa penasaran pembaca mengenai versi Dilan. Gaya bahasa Pidi Baiq yang khas, puitis, dan jenaka membuat novel ini sangat mudah dinikmati dan terasa segar. Novel ini juga menyajikan pelajaran hidup tentang persahabatan, pentingnya menghormati orang tua, dan tidak mudah percaya pada perkataan orang lain. Namun, novel ini juga memiliki kelemahan. Bagi pembaca yang belum mengikuti dua novel sebelumnya, alur cerita bisa terasa membingungkan. Selain itu, ada pendapat bahwa fokus cerita sudah tidak lagi pada romansa, melainkan lebih banyak pada penjelasan dan klarifikasi Dilan, sehingga intensitas emosionalnya mungkin sedikit berkurang dibandingkan buku pertama.
Kutipan Penting
Salah satu bagian paling berkesan dan mencerminkan karakter Dilan yang protektif terdapat dalam dialog: “Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya orang itu akan hilang.” Kutipan lain yang penting adalah saat Dilan merefleksikan perpisahan mereka: "Aku tidak cemburu. Dia adalah bagian dari diriku. Dia adalah teritorialku, wilayah yang sudah menjadi milikku.” Bagian bagian ini menunjukkan kedalaman perasaan dan pandangan Dilan terhadap Milea dan dunia, sekaligus menjadi ciri khas narasi Dilan.
PENUTUP
Secara keseluruhan, novel "Milea: Suara dari Dilan" adalah penutup yang apik dan memuaskan bagi para penggemar kisah Dilan dan Milea. Novel ini tidak hanya menyuguhkan kelanjutan kisah cinta remaja SMA yang fenomenal, tetapi juga menjadi sebuah mediasi dan klarifikasi yang penting dari sudut pandang tokoh utamanya. Novel ini sangat layak dibaca oleh para remaja dan pecinta novel romantis yang telah mengikuti dua seri sebelumnya. Namun, bagi pembaca baru, disarankan untuk membaca "Dilan 1990" dan "Dilan 1991" terlebih dahulu agar bisa memahami konteks dan menikmati seluruh alur cerita secara maksimal.
IDENTITAS PERESENSI
Nama: Azkiyah farchaty
Kelas: XI.III
Asal sekolah: SMA Martia Bhakti
Comments
Post a Comment